Pakde Bas Sambangi Warung Barokah Masjid Cheng Hoo H. Abdul Rahman Sukorejo Kendal

Berita Utama249 Dilihat

KENDAL –rakyat24. com. Tidak ada karpet merah, tidak ada pengawalan berlebihan. Hanya meja kayu jati kuno, sepiring dan segelas teh kopi manis. Namun di Warung Barokah Masjid Cheng Hoo H. Abdul Rahman Sukorejo, Sabtu [16/5/2026], pertemuan itu terasa lebih bermakna dari seremonial kenegaraan mana pun.

Mantan Bupati Kendal, H. Windu Suko Basuki, SH, menyambangi warung yang dikelola pengurus masjid untuk bersilaturahmi dan makan siang bersama warga serta pengurus Masjid Cheng Hoo.

Kehadiran pria yang akrab disapa Pakde Bas itu tidak diumumkan besar-besaran. Ia datang sekitar pukul 11. 30 WIB bersama sahabat dekatnya seorang Ustadz dari Kota Kendal. Keduanya langsung duduk di bangku kayu jati yang biasa digunakan para jamaah Masjid untuk sekedar rehat sambil menikmati kopi hitam khas Sukorejo an. Dan saat Adzan berkumandang keduanya pun bergegas mengikuti shalat berjamaah bersama Makmun lainnya, kemudian seusai shalat dzuhur Pakde Bas menyalami satu per satu jamaah yang sebagian pedagang pasar Sukorejo Kendal.
“Jabatan Berlalu, Silaturahmi Harus Tetap, itulah makna yang sesungguhnya kehadiran Pakde Bas di Warung Barokah ini,” ungkap Rahmat salah seorang pegiat Masjid Cheng Hoo ini.

Di tengah obrolan ringan sambil menyantap nasi cumi, udang asam manis dan tempe goreng Pakde Bas seolah ingin mengungkapkan bahwa makna kepemimpinan tidak berhenti saat masa jabatan selesai. Karena jabatan itu bagi Pakde Bas hanyalah titipan. Dan Beliau Hari itu hadir bukan sebagai mantan bupati, tapi sebagai warga Kendal biasa. Duduk bahagia, makan bareng, ngobrol soal kehidupan. Karena yang bikin Kendal kuat itu ya guyubnya berbarengan wong cilik.
Pakde Bas memang sengaja memilih Warung Barokah Masjid Cheng Hoo karena tempat ini merepresentasikan semangat gotong royong dan toleransi. Warung ini dikelola pengurus masjid yang diperuntukkan bagi siapapun yang merasa lapar dan sesegera bisa makan.
“Di sini agama, budaya Tionghoa, dan budaya Jawa bertemu. Ini wajah Indonesia yang asli. Pokoknya siapapun akan berasa senang, bisa makan bareng di tempat yang barokah seperti ini, tanpa dipungut biaya sepeserpun.
Obrolan Ringan, Pesan Berat
Selama hampir dua jam, Pakde Bas berbincang hangat, tanpa jarak. Mulai dari memikirkan nasib rakyat hingga bincang ibadah, termasuk ibadah Haji dan Umrah yang belakangan ini menjadi kesibukan barunya bersama Birotravel Umroh dan Haji yang kini Ia geluti dengan penuh semangat dan keikhlasan, ” Saya hanya ingin melayani lebih baik bagi para jamaah Haji dan Umrah di Biro Travel PT. Muslimin Indonesia ini,” ungkap Pakde Bas.

Salah satu pengurus masjid, H. Abdul Rahman, menyebut kunjungan itu sebagai bentuk teladan bagi pejabat publik.

“Pakde Bas tidak berubah. Dulu saat jadi pejabat, beliau sering turun ke pasar. Sekarang sudah tidak menjabat, tetap datang, tetap menyapa. Ini yang namanya pemimpin yang merakyat,” ujarnya.

Suasana makin hangat ketika beberapa anak dari TPQ Masjid Cheng Hoo berlalu lalang diseputaran Masjid yang berarsitektur Tiongkok ini.
Warung Barokah: Dapur Sosial yang terletak ditengah kota kecamatan Sukorejo ini memang dikenal sebagai dapur sosial. Sejak 2023, warung ini menyediakan makan gratis selama 24 Jam, dan setiap Jumat juga menyediakan nasi kotak untuk para jamaahnya.
Pengelola warung Barokah, Mbak Sari mengaku terkejut sekaligus senang. “Nggak nyangka Pakde Bas mau mampir. Beliau nggak minta hidangan khusus. Yang penting enak, bersih, dan barokah. Itu yang kita jaga di sini,” katanya.
Setelah bincang hangat dan santai Pakde Bas pun minta pamit untuk bisa bergeser ke lokasi lainnya menggunakan mobil hitam bersama sang Ustadz sahabatnya,

Politik Itu Sementara, Kemanusiaan Itu Selamanya, kira-kira ungkapan itulah yang bisa memaknai pertemuan ini.
Karena ditengah polarisasi politik yang sering memecah, pertemuan di Warung Barokah ini jadi pengingat bahwa hubungan manusia jauh lebih penting dari jabatan.
Pak De Bas, paska lepas jabatan Wakil Bupati Kendal seolah tanpa protokoler, tanpa pidato panjang. Hanya sebuah pelukan ringan dan salaman erat dengan pengurus masjid, seolah
ada pesan yang tersirat untuk disampaikan Jaga Kendal, Jaga guyubnya. Kalau wong cilik guyub, Kendal nggak akan goyah, kira-kira itu makna sejatinya.
Dan mungkin, itulah warisan yang lebih abadi dari sekadar jalan beton dan gedung pemerintahan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *