KENDAL –rakyat24. Com. Sabtu Bakda Magrib itu, Jalan Pasar Sukorejo Kendal berubah menjadi lorong keberkahan. Tidak ada panggung megah, tidak ada sorotan lampu panggung. Yang ada hanya Garasi area parkir yang diubah menjadi Majli pengajian yang dipenuhi senyum sumringah ratusan anak yatim, aroma nasi brongkos kuliner khas Sukorejo pembawa semangat dan doa yang dipanjatkan serentak untuk satu nama Hj. Siti Nurjanah, SH
Istri dari Owner Pusaka Group, HR Mastur, SH, M.Si itu genap berusia 66 tahun pada 4 Mei 2026. Namun tasyakurannya digelar pada Sabtu, 16 Mei 2026, dengan cara yang paling ia cintai: berbagi bersama anak-anak yatim.
Tasyakuran yang Tidak Biasa dimulai
Sejak pukul 18.00 WIB, puluhan anak yatim mulai berdatangan. Mereka disambut hangat oleh Ibu Hj. Siti Nurjanah sendiri, yang terlihat sumringah meski usia tak lagi muda.
“Alhamdulillah, di usia 66 tahun ini Allah masih memberi kesempatan untuk berbagi. Kebahagiaan saya bukan di kue atau hadiah, tapi di senyum anak-anak ini,” ungkapnya
Acara berlangsung sederhana namun penuh makna. Ratusan anak yatim menerima santunan, doorprize, uang saku dan mami ( makan minum) yang disediakan sebagai jamuan semua yang hadir dalam acara tasyakuran ini. Kemudian suasana pun makin khidmat ketika pengajian dimulai.
“Bukankah Nabi Muhammad pun Anak Yatim?”
Menyentuh hati. Itulah kesan yang ditinggalkan ceramah Ustadz Cinta, H. Erde Dengan gaya khas yang terdengar suaranya yang menggelegar, tapi lembut yang mampu menusuk kalbu, ia mengingatkan hadirin tentang makna syukur dan kekuatan anak yatim.
“Kita harus selalu bersyukur atas nikmat yang tanpa batas yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Dan untuk adik-adik yatim, jangan pernah patah semangat. Teruslah menuntut ilmu. Bukankah Nabi Muhammad SAW pun anak yatim? Dan ternyata Allah mengangkat derajatnya menjadi manusia pilihan terbaik,” ujar H. Erde yang disambut aamiin panjang dari jamaah.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menjadi hebat. Anak-anak yang hadir mendengarkan dengan mata berbinar, seolah baru menemukan alasan kuat untuk terus bermimpi. Dan semoga mimpi ini agar segera menjadi Kenyataan, ” Bayangin 10 tahun yang akan datang, anak-anakku sekalian yang hadir disini bisa saja dengan ketekunan mencari ilmunya bisa menjadi Dokter, Insinyur, Arsitektur, Polisi, Tentara atau pengusaha muslim yang sukses. Namun tetap menjadi manusia taqwa, sholeh dan sholehah, “Imbuh Ustadz H. ERDE.
Tasyakuran yang dikemas bercampur hiburan serta panggung berbagi ini juga tak berhentinya aliran Doa dari Keluarga dan Jamaah
Di sela acara, doa dan penghormatan mengalir dari berbagai pihak. Sang suami, HR Mastur, SH, Msi, menyampaikan rasa bangga atas keteguhan istrinya dalam menebar kebaikan.
Anak-anak dan puluhan cucu yang hadir pun bergantian mencium tangan sang ibu dan nenek. Bagi mereka, Hj. Siti Nurjanah bukan hanya sosok ibu rumah tangga, tapi juga guru pertama tentang arti berbagi.
“Semoga selalu sehat, panjang umur, bahagia dan hidup penuh keberkahan,” ungkap seorang mustami yang sejak magrib sudah hadir.
Kalimat sederhana itu mewakili perasaan semua yang ada di sana.
Makna di Balik Usia 66
Lahir pada 4 Mei 1960, Hj. Siti Nurjanah telah melewati enam dekade lebih kehidupan. Namun di usianya yang ke-66, ia memilih merayakan dengan cara yang tak biasa: menjadikan ulang tahunnya sebagai ladang pahala untuk orang lain.
Acara ditutup doa bersama. Ratusan tangan terangkat, memohon agar Allah memanjangkan usia, menyehatkan badan, dan meluaskan rezeki bagi perempuan yang dikenal dermawan itu.
Di Sukorejo Kendal malam itu, satu hal menjadi jelas. kebahagiaan sejati bukan soal usia yang bertambah, tapi soal berapa banyak hati yang bisa kita bahagiakan.
Selamat ulang tahun, Ibu Hj. Siti Nurjanah, SH. Semoga keberkahan umurnya terus menjadi jembatan kebaikan bagi banyak orang.(*)






