PD FSP PAREKRAF Jateng Bakal Gelar Diklat Sertifikasi BNSP Bagi Para Pekerja Parekraf Di Jateng.

Berita Utama163 Dilihat

SEMARANG –rakyat24.com. Pengurus Daerah Federasi Serikat Pekerja Pariwisata, Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah (PD FSP PAREKRAF Jateng) berencana akan menggelar Diklat sertifikasi kompetensi bagi ribuan para pekerja Parekraf se-Jateng. Program ini menggandeng BNSP dan Salah satu LPK Yogyakarta untuk memastikan pekerja pariwisata mengantongi sertifikat resmi sebagai bukti profesionalisme.

Wakil Ketua PD FSP PAREKRAF Jateng, Rahmat, menegaskan langkah ini krusial di tengah tren positif sektor wisata Jateng.

“Dalam rangka mendukung Parekraf Jateng agar lebih maju di masa depan, kami berupaya agar para pekerja PAREKRAF lebih profesional dalam melaksanakan tupoksinya di masing-masing PUK guna memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan. Ini penting karena ada ribuan pekerja kami di semua destinasi wisata Jateng,” ujar Rahmat, Sabtu, (30/5/2026).
Pernyataan FSP PAREKRAF sejalan dengan data terbaru. Penelitian CNBC Indonesia Research menempatkan Jawa Tengah di daftar teratas provinsi dengan total pendapatan daya tarik wisata alam komersial tertinggi.

Data BPS memperkuat: kunjungan wisatawan Nusantara ke Jateng 2024 mencapai 68,88 juta orang, naik 22% YoY. Wisatawan mancanegara melonjak 28% menjadi 593.168 orang. Destinasi magnet seperti Masjid Syeikh Zayed Surakarta, Kota Lama Semarang, Candi Prambanan, Kawasan Borobudur dan Dieng jadi penggerak utama.
Sebelumnya Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, SH, S.St.MK, melalui Web Pemrop Jateng menyebut strategi Jateng bertumpu pada aglomerasi wisata dan penguatan desa wisata.

“Salah satu upaya untuk menaikkan PAD kita, di antaranya dengan memperkuat dan memperbanyak obyek wisata. Kita punya aglomerasi wisata Kopeng, Borobudur, sama Rawa Pening. Kita punya seribu desa wisata,” ungkap Gubernur di kantornya, Kamis 8 Januari 2026 lalu

Gubernur menambahkan, desa wisata didorong naik kelas dari lokal ke regional hingga internasional. Pemprov bersama kabupaten/kota juga telah menetapkan desa wisata lewat SK kepala daerah sebagai dasar pelatihan.

Ditempat terpisah Ketua PD FSP PAREKRAF Propinsi Jawa Tengah, Saifudin Ikhdom merespon cepat kegiatan yang baru pertamakalinya akan digelarnya,” Bisa segera dikoordinasikan bersama Dinas Pariwisata dan Disnakertrans Jateng juga dengan semua pihak yang bisa terlibat dalam peningkatan Pariwisata di Jateng, saat dialog May Day 2026 lalu Gubernur Jateng juga menyampaikan harapan besar terhadap FSP PAREKRAF Jateng yang juga telah mengundang kami untuk membahasnya dikantor Gubernur Jateng. Dan kegiatan ini merupakan jawaban atas respon baik Gubernur Jateng guna menumbuh kembangkan Pariwisata di Jawa Tengah”ungkap Ikhdom (Minggu,31/5-2026)

Selain alam dan sejarah, Jateng memperluas segmen lewat wisata kuliner, budaya, dan wisata ramah muslim untuk memperkuat daya saing.

Tapi di balik itu ada ujian berat. Aglomerasi Kopeng-Borobudur-Rawa Pening dan 1.000 desa wisata hanya akan jadi “jualan kertas” jika SDM-nya tidak naik kelas.
Di sinilah Diklat BNSP yang digagas FSP PAREKRAF jadi jawaban. Wisata ramah muslim butuh guide yang paham etika. Desa wisata butuh pengelola homestay yang tersertifikasi hospitality. Aglomerasi butuh frontliner yang mampu jaga “Sapta Pesona” saat Borobudur overcrowding.

Tanpa sertifikasi, PAD dari “memperbanyak obyek wisata” akan bocor ke komplain wisatawan dan citra buruk. Dengan sertifikasi, setiap wisatawan dari 68 juta itu berpotensi jadi duta Jateng yang balik lagi plus bawa teman-temannya.

Jika FSP PAREKRAF berhasil, maka Jateng bukan hanya provinsi “top pendapatan wisata alam”, tapi juga provinsi “top SDM pariwisata”. Itu baru “Nomor 1” yang sesungguhnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *